PALANGKA RAYA – Rencana Pemko Palangka Raya dan tentunya didukung penuh oleh DPRD untuk memoles Bundaran Besar sepertinya tidak akan mulus. Sebab dari internal pemko saja masih ada pro dan kontra. Setelah Asisten II Sekda Ec Hadiansyah meminta agar proyek itu dikaji lagi, belakangan Wakil Wali Kota Palangka Raya H Maryono yang angkat bicara.
Proyek ini seolah memicu perpecahan Maryono dengan Wali Kota Palangka Raya HM Riban Satia. Maryono berpendapat, tidak etis kalau Pemko Palangka Raya menangani ikon kota itu. Dia juga menyebut lambang pusat kota itu kaplingnya Pemprov Kalteng karena include (termasuk) dengan Istana Isen Mulang. Kalau menurut saya, Bundaran Besar tersebut adalah urusan provinsi. Karena, itu include dengan Istana Isen Mulang. Kenapa pemko mengambilalih itu? Ya mungkin karena itu wajah kota dan tanyakan saja sama pak Adirama lah (Adirama Bahan MM, Kepala Dinas Tata Kota Bangunan dan Pertamanan, Red), kata Maryono kepada Kalteng Pos di depan ruang kerjanya, pekan lalu.
Maryono juga memandang program mempercantik Bundaran Besar itu bukan prioritas yang semestinya juga dikritisi dewan. Dia juga menyindir dewan yang tidak lagi kritis. Padahal, setiap reses ke daerah, DPRD selalu menemukan daerah yang merasa dianaktirikan. Seperti beberapa fasilitas pendidikan di Kecamatan Sabangau dan Rakumpit. Nah, kalau sudah menemukan seperti itu, DPRD yang teriak. Tetapi DPRD yang menindaklanjuti dan menyetujui dalam penganggaran. Kalau saja sebagian anggaran itu diplotkan untuk pendidikan, kemungkinan lebih baik dari pada untuk memperbaiki Bundaran Besar, imbuhnya.
Maryono menyarankan agar rehab Bundaran Besar dikonsultasikan dengan Gubernur Kalteng. Tetapi manakala kota sudah nekat memperbaiki bundaran, ya pak Gubernur tidak bisa menolakya. Silakan saja. Apa sih yang mau dibaiki Bundaran Besar? Mau ditanami pohon-pohon? Berapa sih harga pohon? Pada intinya jangan sampai penganggarannya tidak konsisten, ujar Maryono dengan nada tinggi. Sebelumnya, seorang anggota Komisi II DPRD Kota Hatir Sata Tarigan memandang sudah saatnya Bundaran Besar diperbaiki dan ditata ulang. Karena merupakan pusat kota dan menjadi ikon serta menjadi kebanggakan masyarakat.
Apalagi kawasan itu dengan tempat vital seperti Istana Isen Mulang dan lain sebagainya. Kepala Distakobang dan Taman Kota Palangka Raya Adirama Bahan MM pernah mengatakan bahwa anggaran untuk memoles Bundaran Besar itu sudah dianggarkan dari APBD Perubahan sebesar Rp1,9 miliar untuk tahap pertama. Anggaran itu untuk pembuatan jogging trek yang semula di pinggir jalan, akan dipindahkan ke dalam tanpa harus mengganggu pohon-pohon. Kemudian memperbesar dan meninggikan patung tentara agar bisa terlihat dari kejauhan. Di samping patung tentara akan ditambah patung orang Dayak atau ornamen Dayak.(kaltengpost)
