Kemarau Sebagai Berkah Bagi Petani Karet

Kemarau Sebagai Berkah Bagi Petani KaretAnjloknya harga karet yang beberapa waktu lalu, membuat gairah para petani karet dalam menyadap menurun. Bahkan diantaranya tidak turun ke kebun karet. Ini Dikarenakan harga karet terjun bebas dari Rp 7.500 per kilogram Rp 4000 per kilogram. Bahkan ada yang Rp 2000 per kilogram.
Kini harga karet mulai naik, dan para petani pun bergairah untuk menyadap di kebunnya. Harga karet naik, gairah bekerja pun meningkat. Mungkin itu merupakan kata hati dari para petani karet. Setelah anjlok beberapa waktu lalu dengan harga Rp 4000 per kilogram, kini menjadi Rp 8000 per kilogram hingga Rp 10.000 per kilogram.
Ini menjadi pemicu para petani untuk bekerja lebih giat menyadap. Salah seorang petani karet, Hannah (40) mengakui, bersemangat untuk pergi ke kebun pagi-pagi buta menyadap karet. Saat harga turun, saya malas sekali menyadap, kini harga sudah normal, dan saya kembali bekerja seperti biasa, ungkap wanita yang berdomisili di sekitar jalan menuju Desa Magantis. Bahkan, yang paling menggembirakan adalah kedatangan musim kemarau. Kenapa? Biasanya masyarakat lain diperkotaan, menganggap kedatangan musim kemarau harus diwaspadai.
Debit air menurun, bencana kekeringan, hingga musim asap menjadi momok menakutkan. Tapi bagi petani karet tidak berlaku karena musim kemarau membawa keberuntungan. Mereka dapat menyadap tanpa takut karet sadapan tidak tercampur air hujan. Jika hujan hasil susah menyadap. Ini artinya akan berpengaruh bagi keperluan dapur. Dan keperluan sekolah anak serta tetek bengek lain teratasi. Para petani berharap pemkab melaksanakan pengawasan harga karet. Pasalnya harga karet masih ditentukan pengumpul.(*)
Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*